| |
| |  | | | Pengelola Yayasan Trikora Syaukat Banjaransari:44 Tahun Santuni Anak Prajurit yang Gugur
30 Juli 2007

Yayasan Trikora atau lengkapnya Yayasan Bantuan Beasiswa Yatim Piatu Trikora memiliki komitmen dan perhatian besar terhadap nasib kelangsungan pendidikan anak-anak prajurit korban Trikora, Dwikora dan Operasi Seroja. Bantuan beasiswa diberikan sejak taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi.
Seperti dijelaskan Syaukat Banjaransari, pengelola Yayasan Trikora saat ini, bahwa yayasan hasil gagasan besar dari salah satu putra terbaik milik bangsa - yang saat itu masih menjadi seorang prajurit aktif penerima mandat Pelaksana Komando Operasi Trikora – bertujuan secara khusus memberikan bantuan pendidikan kepada anak-anak prajurit yang gugur. Tepatnya, berupa bantuan beasiswa kepada anak prajurit korban Operasi Trikora, Dwikora dan Seroja.
“Bantuan beasiswa tersebut diberikan sejak taman kanak-kanak, sekolah dasar hingga perguruan tinggi,” kata Syaukat Banjaransari. Secara singkat diulas Syaukat, yayasan tersebut didirikan tepat pada Hari Pendidikan Nasional, tanggal 2 Mei 1963 silam. Modal yayasan pada tahun 1966 tak lebih dari Rp 25 ribu atau setara dengan Rp 25 juta sekarang. Semuanya berasal dari ‘kantong’ pendiri yayasan, yakni Jenderal TNI Soeharto, yang selanjutnya ditambah dari para donatur dari berbagai kalangan dan instansi.
Ribuan anak
Selama 44 tahun lebih yayasan telah menyantuni ribuan anak yatim piatu. Hingga akhir tahun 2000 lalu saja ada sekitar 3.244 anak dari 1.086 janda prajurit. Sehingga tak heran bila beberapa mantan penerima bantuan tersebut sudah ada yang berhasil menjadi pejabat, baik sipil, polisi maupun militer serta swasta.
“Merupakan kebanggaan tersendiri bila para mantan penerima bantuan beasiswa Yayasan Trikora dapat berhasil dalam pendidikan sehingga tercapai apa yang dicita-citakannya,” tandas Syaukat, yang pernah menjadi Sekertaris Militer Kepresidenan.
Saat ini, jumlah penerima bantuan masih ada sekitar 593 anak dari 373 janda prajurit. Artinya, sudah mulai berkurang karena beberapa penerima lainnya telah menyelesaikan pendidikan tingginya sehingga tidak lagi berhak mendapatkan bantuan beasiswa tersebut. “Karena sudah kita anggap telah mandiri,” kilah Syaukat Banjaransari, yang masih tampak gagah dan berapi-api bila bicara, walau usianya telah berkepala tujuh.
Secara rutin dan berkala yayasan membantu meringankan pendidikan kepada siswa TK/SD sebesar Rp 45 ribu, SLTP sebesar Rp 60 ribu, SLTA sebesar Rp 75 ribu dan Perguruan Tinggi (PT) sebesar Rp 135 ribu. Semua bantuan beasiswa tersebut diberikan per triwulan (tiga bulan).
Namun terhitung per Agustus 2000 lalu, pihak yayasan sangat bijak dengan menaikkan bantuan beasiswa sebesar 200 persen. Hal tersebut dilakukan karena mempertimbangkan perkembangan segala kebutuhan yang terus naik.
Untuk tingkat TK/SD menjadi Rp 135 ribu, SLTP naik menjadi Rp 180 ribu, SLTA berubah menjadi Rp 225 ribu dan PT naik menjadi sebesar Rp 405 ribu. “Tujuannya untuk lebih memacu semangat belajar mereka serta mengacu pada biaya pendidikan yang kian mahal,” ucapnya.
Lebih lanjut, lewat Majalah Gemari Syaukat berharap agar anak-anak prajurit penerima bantuan beasiswa pendidikan dari yayasan ini kelak bisa memberikan yang terbaik bagi pembangunan bangsa, negara dan masyarakat serta keluarganya. Tentunya dengan tidak melupakan semangat kepahlawanan yang dimiliki orang tuanya dahulu.
“Sematkanlah selalu jiwa patriotisme, semangat kepahlawanan yang pernah dimiliki orang tua dan diberikan kepada tanah airnya tercinta,” imbau mantan Sekertaris Militer Kepresidenan penuh harap kepada para mantan penerima bantuan beasiswa.
Sebab, lanjut dia, hal seperti itulah yang diinginkan sekaligus dicita-citakan pendiri yayasan agar para mantan penerima di masa mendatang bisa memberikan sumbangsihnya bagi kesinambungan pembangunan nasional menuju masyarakat adil dan makmur. RIS
Rekaman Suara Mandiri 13 Agustus 2007
Bersama Bpk Syaukat Banjaransari (Yayasan trikora)
Sesi 1
Sesi 2
Sesi 3
Sesi 4
Sesi 5
| |
|
|