Sejarah Singkat Yayasan
Formulir Aplikasi
 
 
Yayasan Trikora Beri Beasiswa Anak Pahlawan

30 Juli 2007



“Begitulah awalnya pendirian yayasan yang awalnya tergerak untuk membantu anak-anak pahlawan yang gugur pada saat pembebasan Irian Barat tahun 1951 sampai tahun 1963,” kata Mayjen TNI (Purn) Syaukat Banjaransari, Sekretaris Yayasan Trikora, di Gedung Hanurata Kebon Sirih, Jakarta Pusat, saat ditemui Majalah Gemari.
Yayasan Trikora didirikan oleh Mayjen Suharto bersama sembilan tokoh Trikora yang bersama-sama membentuk berdirinya Yayasan Trikora, yaitu Mayor CKH Achmad Parwis Nasution, BCHK, Mayor Udara Sugiri, Kolonel Laut Marwidji, Kolonel Inf Munadi, Ny Jos Sudarso, Brigjen Achmad Tahir, Komodor Udara Wiriadinata, Kolonel Inf Sunggoro, dan Mayor Inf Matradji.
“Dengan alasan bahwa pahlawan Trikora sebagai pejuang yang telah mengorbankan jiwa dan raganya untuk merebut Irian Barat. Mereka merupakan pahlawan bangsa, mereka tidak minta dihargai atau diperingati, tetapi kita yang masih hidup wajib menghormatinya dengan penghargaan yang tinggi. Salah satunya dengan menyantuni anak-anak yatim piatu prajurit yang gugur di Irian Barat,” ujarnya.
Semuanya dimulai pada masa Republik Indonesia Serikat (RIS), yaitu seluruh Nusantara tanpa Irian Barat sejak tanggal 27 desember 1949 hasil Komisi Meja Bundar di Den Haag Belanda saat pembentukan RIS, Irian Barat tidak Masuk sebagai Republik Indonesia Serikat. Karena itulah Presiden Sukarno mengumandangkan ke seluruh bangsa Indonesia: “Sebelum ayam jantan berkokok pada 1 Januari 1951, Irian Barat harus sudah jatuh ke tangan Indonesia.”
Komando yang dikumandangkan oleh Presiden Sukarno dan mulainya TNI bersama gerilyawan Indonesia menyusup ke Irian Barat. “TNI dengan Gerilyawan berhasil mengusir belanda dari bumi Irian Barat. Barulah PBB menengahi dengan menyelenggarakan Pepera tersebut, dengan masuknya Irian Barat ke Indonesia dan Operasi Trikora selesai,” ungkap Mayjen Syaukat yang pernah menjabat sebagai Sesmil Presiden tahun 1983-1993.
“Setelah selesainya operasi militer maka tinggal mereka yang masih hidup dan anak-anak yatim piatu pejuang yang gugur sebagai pahlawan Trikora. Dengan niatan memberi penghargaan kepada para pahlawan pejuang Trikora didirikanlah Yayasan Trikora untuk membantu anak yatim piatu pejuang yang gugur di Irian Barat. Bantuan tersebut dari bangku sekolah Taman Kanak-kanak (TK) sampai lulus Perguruan Tinggi,” paparnya.
Jadi, lanjutnya, bukan para pejuang Trikora yang menerima bantuan. Sampai saat ini pun tidak ada pejuang Trikora yang menerima Bantuan dari Yayasan Trikora, hanya membantu program pemerintah di bidang sosial, pendidikan dan agama,” jelas pria kelahiran Kutoarjo, Jawa Tengah, 22 Nopember 1936 ini.
Lancar dan aman
Pada prinsipnya, ungkap Syaukat Banjaransari, tidak ada kendala yang dihadapi Yayasan Trikora. Sampai saat ini semua program yayasan dapat diselenggarakan dengan lancar dan aman. Banyaknya bantuan Yayasan Trikora, khususnya bantuan beasiswa anak yatim piatu pejuang Trikora yang gugur berjumlah 326 anak yang telah selesai menempuh pendidikan dari siswa Taman kanak-kanak sampai mahasiswa. Beasiswa itu dari tahun 1963 sampai tahun 1993.
Dengan terbantunya pendidikan mereka Pak Harto sempat ingin membubarkan yayasan ini pada tahun 1965 lalu. Pasalnya, anak-anak yatim piatu pahlawan Trikora sudah di sekolahkan. “Tetapi ketika itu saya bilang kepada Pak Harto ‘masih ada pak dari Dwikora.’ Maka dilanjutkan dengan memberikan bantuan kepada anak-anak yatim piatu pejuang Dwikora sebanyak 177 orang dari tahun 1965 sampai 1995,” jelasnya lagi.
Yang menarik, tidak hanya pahlawan Trikora dan pahlawan Dwikora yang diperhatikan oleh Yayasan Trikora untuk membantu anak-anak yatim piatu para pejuang tersebut. Akan tetapi, bantuan terus dilanjutkan bagi anak-anak yatim piatu para pejuang Timor-Timur atau dengan nama pejuang Seroja. Mereka berjumlah 2542 orang anak yatim piatu dari tahun 1976 sampai tahun 2007, sekarang ini sudah menyekolahkan anak-anak yatim piatu sampai lulus perguruan tinggi sebanyak 2361 orang. Dengan perincian, lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) 2981 orang, lulusan sarjana muda 106 orang dan lulusan sarjana 174 orang. Dengan kata lain, sudah menyelesaikan 92,87% bantuannya sampai lulus sekolah yang dikehendaki.
Sejalan dengan masa-masa yang lebih kondusif, dari tahun 1976 sampai sekarang ini Yayasan Trikora tidak berhenti memberikan bantuan beasiswa anak-anak yatim piatu hanya kepada para pejuang Trikora, Dwikora, dan Timor-Timur. Tetapi juga mulai membantu anak-anak yatim piatu dari prajurit TNI-Polri atau PNS yang meninggal pada saat menjalankan tugas. Juga kepada anak-anak dari suami isteri penyandang Tuna Netra. Mereka berjumlah 363 orang dari tahun 1976 sampai sekarang, 162 orang sudah menyelesaikan pendidikannya. Juga para anak-anak yatim piatu para pahlawan daerah konflik seperti Aceh, Ambon, Papua, Timtim, Poso, dan Daerah Operasi Militer pada saat itu berjumlah 136 orang anak yatim piatu.
“Bantuan beasiswa pada awalnya diberikan langsung kepada anak-anak para pahlawan tersebut di kantor Yayasan Trikora. Mereka datang bersama-sama dengan yang lainnya setiap tanggal 2 tiap bulan. Mereka senang sekali bisa bertemu dengan para pengurus yayasan sambil menyampaikan keluh kesahnya,” ujarnya.
“Akan tetapi saya berpikir apakah tidak menjadi percuma apabila bantuan tersebut habis digunakan untuk biaya perjalanan ke kantor Yayasan Trikora, karena ada yang dari Bandung, Surabaya, Medan dan Makassar. Kemudian kami anjurkan untuk menulis lengkap alamatnya untuk dikirimkan wesel per alamat dan bahkan nomor rekening. Sekarang semuanya sudah memakai nomor rekening bank, yang diberikan bantuan beasiswa setiap triwulan atau tiga bulan dana beasiswa,” kata Syaukat tersenyum bahagia.
Permohonan beasiswa
Dengan tujuan membantu program pemerintah bidang sosial, pendidikan, dan agama Yayasan Trikora juga telah membantu pembangunan Masjid Raudah sebesar Rp 1,12 milyar di Taman Makam Pahlawan Cikutra Bandung, Jawa Barat. Selain itu, Yayasan Trikora membantu pendirian Yayasan Stroke Indonesia tidak kurang dari Rp 5 milyar. Indeks bantuan beasiswa yang diberikan kepada siswa TK/SD sebesar Rp 60 ribu/bulan, SMP sebesar Rp 80 ribu/bulan, SMA sebesar Rp 100 ribu/bulan, Akademi Rp 150 ribu/bulan dan Universitas Rp 150 ribu/bln. Dari keseluruah bantuan yang diberikan sejak didirikan tahun 1963 Yayasan Trikora memberikan beasiswa sebanyak 3642 anak-anak yatim piatu, 3040 orang telah selesai atau lulus pendidikannya.
“Pahlawan menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah orang yang pemberani dalam mongorbankan jiwa dan raga untuk membela kebenaran. Pejuang yang gagah berani tidak harus gugur. Akan tetapi banyak yang menerangkan bahwa pahlawan adalah orang yang berjuang untuk negaranya dan gugur di medan pertempuran tanpa memperhitungkan untung dan rugi. Ia rela mengorbankan jiwa dan raga untuk membela kemerdekaan demi kejayaan nusa dan bangsa. Maka dari itu para pahlawan dimakamkan di taman makam pahlawan,” kata Syaukat memberikan penjelasan tentang pahlawan.
Namun, menurutnya, pernah satu waktu ia melihat banyak anak-anak muda yang sedang gerak jalan dengan membawa papan nama besar bertuliskan Ki Hajar Dewantoro, Cut Nyak Dien, Fatmawati dan sebagainya. “Ketika ditanya mengapa memakai nama Fatmawati? Maksudnya apa?” tanya Syaukat kepada anak muda tersebut. Jawabnya, “Ini ‘kan nama rumah sakit pak!”
Sewaktu Syaukat tanya yang membawa nama papan nama Yos Sudarso, jawabnya, “Ini nama jalan pak, berucap dengan enteng. Seharusnya mereka-mereka itu banyak membaca buku atau tulisan sejarah kepahlawanan, para tokoh pejuang, sejarah perjuangan, atau biografi pahlawa bangsa,” tegas Sekretaris Yayasan Trikora dan Komisaris Utama PT Hanurata.
Ditanya tentang cara mendapatkan beasiswa, Syaukat menjawab, untuk memberikan kesempatan kepada anak yatim piatu anak-anak dari pahlawan melanjutkan pendidikannya sampai ke perguruan tinggi dapat mengajukan permohonan beasiswa. Tentunya ditujukan kepada Ketua Yayasan Trikora dengan melampirkan status anak yatim piatu. “Kemudian kita akan tentukan apakah layak untuk diberikan bantuan beasiswa, dengan memperhatikan statusnya atau riwayat orang tua si anak yatim piatu tersebut. Sebulan kemudian, kalau disetujui akan langsung diberikan beasiswanya,” jelasnya lagi menutup wawancara dengan Majalah Gemari. IR








     
  >> Lewat Bantuan Pendidikan Beasiswa Yatim Piatu Yayasan Trikora ‘Hargai’ Jasa Pahlawan
  >> Mereka Butuh Beasiswa SUPERSEMAR
  >> Yayasan Damandiri Kucurkan Kredit Taskin Rp. 3,5 miliar

Gemari | KBI Gemari | Dharmais | Harian Pelita | Majalah Amanah | Dradio 103.4 FM
Damandiri | Trikora | Dakab | Gotong Royong | Yastroki | Supersemar | Yamp | Indra
design by
gemari.or.id
Update by Suwandi Yesaya (suwandiy@vision.net.id) 25 Sept 2003